Larangan Mencela Sahabat (2/2)

332
0
BERBAGI

Sumpah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam;

فو الذي نفسي بيده

Dan demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya

Kalimat sumpah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan hal yang sangat serius dan mendasar. Karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak sering-sering bersumpah dan memang sumpah kalimat yang memang kita harus berhatai-hati dengannya. Kalimat sumpah boleh diucapkan jika memang dibutuhkan dan tidak boleh menjadi kebiasaan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ثم يجيء قوم تسبق شهادة احدهم يمينه و يمينه شهادته

Kemudian akan datang suatu kaum dimana kesaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.

Hadis diatas maknanya adalah akan ada kaum yang bersumpah akan tetapi ia tidak jujur dengan apa yang ia ucapkan. Maka sumpah wajib digunakan pada ucapan yang benar dan jujur. Kemudian bagi orang yang diberi sumpah dengan nama Allah maka hendaknya ia menerima sumpah tersebut. Dalam riwayat disebutkan bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حلف بالله فليصدق و من حلف له بالله فليرض و من لم يرض بالله فليس من الله

“Barang siapa yang bersumpah atas nama Allah maka hendaknya ia jujur. Dan barangsiapa yang diberi sumpah atas nama Allah maka hendaknya ia rela (menerimanya), barangsiapa yang tidak rela dari sumpah tersebut maka lepaslah ia dari Allah” (HR. Ibnu Majah)

Dan sabdanya shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

و لا تحلفوا بالله إلا و أنتم صادقون

“Dan janganlah kamu sekalian bersumpah kecuali dengan jujur” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Sumpah hanya dengan nama Allah, tidak boleh manusia bersumpah dengan menyebut nama-nama atau dzat selain Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك

“Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka ia telah kafir atau musyrik” (HR. Ibnu Abi Hatim/tafsir ibnu katsir 1/57).

Ancaman bagi orang yang bersumpah dengan selain Allah adalah kafir atau musyrik. Akan tetapi kafir disini tidak sampai kepada derajat murtad. Namun kafir yang di maksud adalah kafir lisan. Walaupun seperti itu, jika sering dilakukan apalagi dengan sengaja maka ia akan menjadi dosa besar dan pelakunya dihukum dengan neraka.

Penyebutan tentang sifat Allah subhanahu wa ta’ala.

Kemudian kata “بيده” adalah merupakan kata sandaran atau dalam bahasa arab disebut idhaafiyyah, idhaafiyyah ini berfungsi sebagai menunjukkan kepemilikan. Artinya secara bahasa adalah tangan Allah. Makna “يد” secara bahasa adalah tangan. Dan tangan tersebut disandarkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, artinya adalah “tangan Allah”. Lalu bagaimana Ahlussunnah memaknai tangan yang disandarkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala?.

Dalam memaknai suatu kata dalam al Quran maupun al Hadis kita membutuhkan perhatian yang sangat cermat. Al Quran maupun al Hadis memiliki kosakata yang muhkam (jelas maknanya) dan juga yang mutasyabihat (tidak jelas). Jika ayat atau hadisnya jelas maka kita boleh memaknainya dengan apa yang diketahui dari kata tersebut, dan jika kata itu bersifat mutasyabihat (tidak jelas) maka kewajiban kita adalah mengimaninya saja tanpa mentakwil dan ta’thil serta tanpa berfikir bagaimana dan seperti apa, dan Allah subhanahu wa ta’ala lebih mengetahui maksud dari apa yang Dia firmankan dan wahyukan kepada nabi-Nya yang mulia (hadis). Maka kita ucapkan “wallaahu a’la bi murodihi” (و الله أعلم بمراده) yang artinya Allah subhanahu wa ta’ala lebih mengetahui maksudnya. I’tiqod atau keyakinan seperti ini adalah seperti keyakinan yang dimiliki oleh ‘ulama salaf. Imam Abu Nanifah rahimahullah berkata dalam fiqhul akbar:

و صفاته كلها بخلاف صفات المخلوقين يعلم لا كعلمنا و يقدر لا كقدرتنا و يرى لا كرؤيتنا و يتكلم لا ككلامنا و يسمع لا كسمعنا و نحن نتكلم بالآلات و الحروف و الله تعالى يتكلم بلا آلة و لا حروف و الحروف مخلوقة و كلام الله تعالى غير مخلوق. وهو شيئ لا كالأشياء و معنى الشيئ الثابت بلا جسم و لا جوهر و لا عرض و لا حد له و لا ضد له ولا ند له و لا مثل له. وله يد ووجه و نفس كما ذكره الله تعالى في القرآن فما ذكره الله تعالى في القرآن من ذكر الوجه و اليد و النفس فهو له صفات بلا كيف و لا يقال إن يده قدرته أو نعمته لأن فيه إبطال الصفة و هو قول أهل القدر و الإعتزال و لكن يده صفته بلا كيف.

Dan setiap sifat-Nya adalah berbeda dari sifat makhluk, Dia mengetahui tidak seperti cara kita mengetahui, Dia kuasa tidak seperti kuasa kita, Dia melihat tidak seperti cara kita melihat, Dia berbicara tidak seperti cara kita berbicara, Dia mendengar tidak seperti cara kita mendengar. Dan kita berbicara dengan alat dan huruf sedangkan Allah ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, huruh adalah makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk. Dia adalah sesuatu (yang ada) tidak seperti sesuatu-sesuatu yang lain. Makna sesuatu (yang ada) adalah tsabit tanpa jisim, tanpa jauhar, tanpa ‘arad. Tanpa had, tiada lawan, tiada yang setara, dan tiada yang menyerupainya. Dan Dia memiliki tangan, wajah, dan diri sebagaimana yang Allah ta’ala sebutkan dalam al Quran. Dan apa-apa yang Allah ta’ala sebutkan dalam al Quran seperti penyebutan wajah, tangan dan diri adalah sifat yang dimilikiNya tanpa kaifiyat (yang diketahui). Dan tidak sepatutnya dikatakan bahwa tangannya adalah kekuasaanNya atau nikmatNya karena ini adalah membatalkan sifat dan ini adalah pendapat Qadariyyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi tanganNya adalah sifatNya tanpa kaifiyyat (yang diketahui).  ( Matan Fiqh al Akbar Abu Hanifah)

Menurut Mulla Ali al Qari dalil yang digunakan Imam Abu Hanifah adalah perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam dalam al Quran,

تعلم ما في نفسي و لا أعلم ما في نفسك

Engkau mengetahui akan diriku dan aku tidak mengetahui tentangmu. (Makalah terjemahan dari kitab al Fiqhu al Akbar lil Imam Abu Hanifah wa syarhuhu lil Mulla Ali al Qari).

Cukup mengimani tanpa memikirkan, tanpa merubah ataupun membatalkan, karena manusia otaknya terbatas. Dan tidak pernah ada nukilan dari rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mentakwil ataupun membatalkan sifat yang allah subhanahu wa ta’ala sampaikan melalui wahyu kepada beliau.

Perumpamaan yang menunjukkan keutamaan para sahabat.

Lanjutan hadis Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

فلو أن أحدكم أنفق مثل أحدٍ ذهباً ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه

Dan jika kalian berinfaq emas sebesar gunung uhud, maka tidak akan menyamai satu mud (infaq) mereka, bahkan tidak juga setengahnya.

Ini adalah keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada para sahabat radhiyallaahu ‘anhum, dan ini tidak diberikan kepada generasi selain mereka. Maka sungguh besar keutamaan-keutamaan yang telah Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

 

Penulis: Ahmad Yasin

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY