📝 ERA DUA IMPERIUM (DINASTI UMAYYAH DAN ABBASIYAH) ===================

45
0
BERBAGI

Oleh | Redaktur sahabat yamima

Pada tahun 641 M, Mesir resmi menjadi bagian dari kekhilafahan islam yang berpusat di Madinah dengan pemimpin nya Khalifah Umar bin Khattab.

Dengan ditaklukannya wilayah Mesir, menjadikan sebagai pintu gerbang menuju penyebaran islam di benua Afrika hingga ke wilayah terpencilnya dan itu semua tak lepas dari jasa seorang seahabat nabi bernama Amru bin Ash.

Pada umumnya wilayah yang ditaklukan oleh pasukan muslimin akan menerapkan sistem hukum islami beserta dengan sistem pendidikan yang klasik.

Berangkat dari semangat Khalifah Umar bin Khattab untuk menyebarkan tradisi islami seacara kaffah, maka Khalifah umar bin Khattab memerintahkan kepada seluruh wali atau Gubernur saat ini dari setiap daerah penaklukan untuk membangun masjid dan madrasah atau sekolah tidak terkecuali kepada Amru bin Ash sebagai penguasa atas Mesir.
Hal ini juga di terapkan di daerah lain seperti Bashrah, Kufah, Syam, Qayrawan dan Qordoba di Andalusia.
Masjid dan madrasah merupakan dua pilar dan simbol peradaban islam karena di dalamnya ummat islam ditempa pendidikan siyasah dan ruhiyah.

Pendidikan siyasah seperti diterapkan di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, ketika mengajarkan seni berperang di dalam masjid. Begitu pula dengan penempaan ruh dengan kajian dan halaqoh ilmiyyah menyegarkan hati-hati yang lalai.

Masjid juga sebagai pusat ibadah yaitu sholat berjamaah dan juga tempat berkumpul sehingga menjadi terikat hati orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Perannya masjid juga menjadi pusat informasi tentang perintah dan larangan, begitu pula pengajaran ilmu islam serta ilmu dunia bahkan eksak.

Diantara masjid yang dibangun di Mesir di era Khulafa rasyidin hingga Dinasti Umayyah dan Abbasiyah adalah Masjid Amru bin Ash, Masjid Jami Askar serta Masjid Ibnu Thulun.

Masjid Amru bin Ash
Masjid Amru bin Ash, dikenal juga dengan nama masjid Tajul Jawami’ yang memiliki arti mahkota dari segala masjid sebagai interpretasi dari masjid pertama di daratan Afrika dan masjid ke-empat di dunia.

Terletak di kota tua Fusthat, kota islam pertama di Mesir dan Benua Afrika.

Masjid ini menjadi basis pengajaran ahlusunnah waljamaah ketika Mesir di perintah oleh Dinasti Syiah Ismailiyyah yang bernama dinasti Fathimiyyah.

Para ulama banyak menghiasi warna-warni kehidupan agama di masjid ini diantaranya para sahabat nabi seperti Amru bin Ash, Abdullah bin Amru, Maslamah bin Mukhollad, Zubair bin Awwam, Uqbah bin Amir dan para ulama seperti Imam Laits bin Sa’ad hingga sohib madzhab syafi’i Al Imam Al-Syafei
Di bangun pada tahun 641 M setelah pasukan Amru bin Ash menaklukkan bumi Qibthi yang saat itu dikuasai oleh Romawi dengan sistem penjajahan yang keji.

Amru bin Ash yang mengepung kota Babylon selama satu tahun berhasil memberikan ultimatum yang menyulitkan pasukan Romawi, dengan berat hati anak buah Muqouqis meninggalkan kota Babylon menuju Alexandria pusat pemerintahan Romawi di Mesir.

Bangunan asli masjid ini sudah tak tersisa, mengingat kejadian bumi hangus kota Fusthat di masa pemerintahan Sultan Al Adid dan gubernur Shawar pada tahun 1168 M.

Maka demi menjaga agar kota yang tak berbenteng ini jatuh ke tangan pasukan salib, dibakarlah seluruh kota beserta masjid nya dan dijadikan sebagai medan pertempuran melawan pasukan salib.

Pembakaran kota ini tak tangung-tanggung, setidaknya riwayat mengatakan bahwa api berkobar di kota ini selama 48 hari.
Ketika Sholahuddin Al Ayyubi berkuasa, dibangun kembali masjid ini dan terus mengalami pemugaran hingga kini.

Begitu pula para penguasa setelahnya, setiap datang pemimpin baru untuk wilayah Mesir pasti akan menambahkan tipe baru untuk mempercantik masjid ini.

Berawal dari bangunan yang sangat sederhana yaitu 50×30 dzira’ sangat kecil untuk ukuran sebuah masjid lalu diperluas ke semua arah mata angin.

Bangunan yang sekarang bisa kita lihat memiliki luas 120×125 meter persegi, masih dengan luas yang sama dengan zaman dinasti Umayyah ketika merenovasi masjid ini.

Masjid Amru bin Ash memiliki corak seperti Masjid al-Haram di Makkah dengan lapangan terbuka di tengahnya atau yang biasa di sebut Shan.
Tipe bangunan seperti ini dinilai sangat cocok dengan iklim negara Arab kerena beberapa alasan.

Alasan yang pertama, kondisi lingkungan di negara arab adalah panas dan kering sementara itu masjid juga harus memiliki sistem pertukaran udara agar tidak lembab maka di bangun lah sistem lapangan terbuka atau Shan.

Alasan yang kedua, curah hujan yang rendah mendukung sistem Shan ini dan membuat angin berhembus dari sisi-sisi ruwaq nya menghadirkan suasana nyaman ketika berada di dalam masjid.

Berbeda dengan masjid-masjid yang ada di Asia dan Turki yang menggunakan sistem katedral atau tertutup karena daerah disana memiliki musim salju maupun curah hujan yang tinggi.

Konon di masjid ini Amru bin Ash membangun mimbar besar yang digunakan untuk berkhutbah tetapi Khalifah Umar bin Khattab melarangnya dan memerintahkan untuk menghancurkan mimbar karena dianggap tidak perlu dan bisa menjadi sebuah kesombongan seseorang yang menaikinya.

Pada saat itu, para khotib yang berkhutbah hanya berdiri di hadapan para jamaah atau menaiki pelepah kurma yang tidak terlalu tinggi.

Ketika Mesir di perintah oleh Gubernur Abdul Malik bin Musa beliau memberikan perintah mimbar sebagai tempat berkhutbah di setiap masjid dan tersebarlah adat mimbar masjid hingga kini bagai satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan.
Itulah asal-usul mimbar menjulang tinggi yang peranan nya diperkenalkan oleh dinasti Umayyah.

Masjid Jami Askar
Masjid ini dibangun oleh Gubernur Mesir Saleh bin Ali ketika Dinasti Abbasiyah berhasil membagun kekuatan mengalahkan Dinasti Ummayah.

Saleh bin Ali merupakan utusan yang dikirim oleh Khalifah Al Mahdi bin Mansur, khalifah ketiga dari bani Abbas.

Masjid ini dibangun di kota Askar atau Asakir. Langkah dinasti Abbasiah bergerak cepat dan membuat kota baru serta memindahkan pusat pemerintahan nya dari kota Fustath menuju kota Asakir.
Kota ini menjadi ibukota kedua di wilayah Mesir era pemerintahan Islam.

Jika dilihat dari topografi wilayah, perbandingan antara Fusthat dan Asakir sangat jauh berbeda, Fusthat merupakan kota industri dan strategis karena letaknya berdampingan dengan anak sungai Nil yang hadir jika musim pasang datang, sebelum akhirnya di bendung dan tidak bercabang lagi.

Kondisi ini dimanfaatkan untuk jalur perdagangan dari seberang dan mengirim hasil bumi serta keramik dari Fusthat menuju tempat-tempat lain.

Kota Asakir tetap bertahan sebagai ibukota pemerintahan hingga datang nya pemimpin bernama Ahmad bin Thulun tahun 868 M yang menjadi gubernur di Mesir dibawah kekhalifahan Abbasiah yang ingin menjalankan otonomi daerah secara absolut terlepas dari dinasti Abbasiah, di dukung oleh pengaruh Ahmad bin Thulun yang sangat kuat di Mesir menjadikan ia semakin yakin untuk mendirikan dinasti Thuluniyah dan membangun ibukota baru dan masjid nya di bukit Yashkur, kota Qatha’i.

Masjid Ibnu Thulun
Ahmad bin Thulun merupakan seorang penguasa Mesir utusan dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad.

Ketika melihat kondisi Mesir yang miris akibat pajak yang begitu besar, beliau memutuskan untuk menjalankan otonomi daerah nya secara independen dan menjalankan sistem pemerintahan turun temurun dinamakan Dinasti Thuluniyah pada tahun 768 M.

Ibnu Thulun memindahkan ibukota baru dari Asakir menuju kota Qatha’i dan dan membangun masjid nya di bukit Yashkur.
Masjid ini masih bertahan hingga kini dengan keaslian bangunannya, rahasia ini tak terlepas dari pesan Ahmad bin Thulun yang memerintahkan pembangunan masjid ini harus menjadi masjid yang kokoh, tetap berdiri walau Mesir mengalami kebaran hebat dan tetap utuh walau diterjang banjir.

37 tahun berlangsung bersama Dinasti Thuluniyah akhirnya runtuh dan muncul penguasa baru yang menamakan diri Dinasti Ikhsyidiyah dengan tokohnya Muhammad bin Tughj tahun 935 M. Hingga akhirnya runtuh dikarenakan serangan dari Dinasti Fathimiyah dari Maghrib bersama Qaid nya Jauhar Ash Shaqlabi (Ash shiqilli) tahun 969 M.

Barokallahufiikum
===♡♡=====♡♡====
Yuk menjadi orang tua asuh (orang tua para ulama) hanya 20-50rb/hr untuk 100 calon ulama yang sedang menuntut ilmu di timur tengah.
Info | 0852 1861 6689
Rizal

Atau simak kami di
✒ sahabatyamima.id
FanPage | sahabat yamima
IG | @sahabat yamima
Youtube | sahabat yamima channel

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY