BERBAGI

Benarkah Islam melarang memilih pemimpin non-muslim? Apa benar surat Al-Maidah ayat 51 melarang demikian?

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Penjelasan Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini, “Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Moga kebinasaan dari Allah untuk mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mukmin yang melanggar larangan ini, “Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 417).

Para salaf—baik dari shahabat Nabi SAW maupun generasi setelah mereka—tidak pernah keberatan atau gentar menghadapi para raja dan penguasa untuk menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan sesuai tuntutan maslahatnya.

Misalnya, tatkala Marwan bin Hakam mengeluarkan mimbar pada hari raya dan  berkhutbah terlebih dahulu sebelum shalat dengan menyelisihi sunnah Nabi SAW, tiba-tiba seorang lelaki berdiri di hadapannya seraya berkata dengan suara yang tegas, “Wahai Marwan! Engkau telah menyelisihi sunnah, dan mengeluarkan mimbar pada hari raya, padahal hal itu tidak pernah dicontohkan dan engkau memulai khutbah sebelum shalat.”

Lantas, Abu Said Al-Khudri mendukung lelaki tersebut dengan berkata, “Sungguh, lelaki ini telah menunaikan tugasnya.” (HR. Abu Dawud)

Artinya, ia telah melaksanakan kewajiban yang diperintahkan dalam hadits Nabi SAW, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Syaikh Salman Al-Audah dalam kitab Min Wasa’il daf’I Al-Ghurbah menjelaskan bahwa lelaki tersebut telah mengingkari penguasa secara terang-terangan dengan berlandaskan pada beberapa sebab. Di antaranya:

  • Pada saat itu, kemunkaran dilakukan secara terang-terangan dan diketahui oleh seluruh rakyat. Sebab hal itu berkenaan dengan syiar agama yang terlihat secara kasat mata.
  • Kemunkaran ketika itu memungkinkan untuk segera diubah, yakni agar Marwan shalat terlebih dahulu, baru kemudian berdiri di atas mimbar untuk berkhu
  • Barangkali juga disebabkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi, “Sesungguhnya lelaki tersebut didukung oleh keluarga besarnya dan ia mampu berlindung di belakang mereka, sehingga hal itu tidak membuatnya takut terhadap tindakan yang akan diambil oleh Marwan.” (Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 2/22)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Said sendiri pernah menunjukkan sikap yang lebih tegas daripada lelaki tersebut. dan ini diceritakan sendiri oleh beliau, “Dahulu,” kata Abu Said Al-Khudri, “setiap Rasulullah SAW keluar menuju tempat lapang untuk shalat Idul Fitri atau Idul Adha, hal pertama yang beliau lakukan ialah shalat dua rekaat. Kemudian beliau berdiri di hadapan manusia, sedangkan mereka semua duduk di dalam shaf-shaf mereka. Beliau menasihati mereka, berwasiat dan menyampaikan perintah kepada mereka. Jika beliau berkehendak untuk memberhentikan pasukan, maka beliau langsung memberhentikan mereka. Atau, berkehendak memerintahkan sesuatu, maka beliau akan langsung memerintahkan. Kemudian beliau pergi.”

Abu Said Al-Khudri melanjutkan, “Kaum muslimin masih terus melaksanakan sunnah Nabi SAW ini hingga aku keluar bersama Marwan—ketika itu ia menjabat sebagai gubernur Madinah—pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha.

Tatkala kami telah sampai di tanah lapang, ternyata mimbar yang dibangun oleh Katsir bin Al-Shalt telah disediakan. Tiba-tiba Marwan hendak menaikinya untuk berkhutbah. Lantas, aku tarik bajunya dan ia pun menarik tanganku, lalu ia naik mimbar dan berkhutbah sebelum shalat.

Lantas, aku berkata kepadanya, ‘Wallahi, kamu telah mengubah sunnah!’ Ia berkata, ‘Wahai Abu Said, apa yang engkau ketahui telah ditinggalkan.’ Maka, aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, apa yang aku ketahui lebih baik daripada yang tidak aku ketahui.’

Lalu, ia berkata, ‘Sesungguhnya manusia tidak akan mendengarkan khutbah kami setelah shalat, maka aku dahulukan khotbah sebelum shalat’.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hadits ini, Ibnu Hajar berkata, “Terdapat contoh pengingkaran para ulama terhadap para penguasa manakala mereka menyelisihi sunnah.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari, 2/450)


Reverensi: https://rumaysho.com/14628-surat-al-maidah-ayat-51-jangan-memilih-pemimpin-non-muslim.html, https://www.kiblat.net/2016/10/18/124523ketika-ulama-harus-mengingkari-penguasa/2/

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY