Inilah 8 Nilai Persahabatan

2014
0
BERBAGI

 

Syaqiq Al Balkhi rahimahullah berkata kepada Hatim Al A’shom rahimahullah “Wahai Hatim, sungguh telah lama kita bersahabat, kiranya apakah yang dapat engkau pelajari dari persahabatan kita?”
Hatim Al A’shom menjawab, yang sebagaimana tertulis di kitab Hilyatul Aulia. “Aku mempelajari delapan hal dari persahabatan kita;
1. Aku melihat semua orang berusaha untuk mencintai sesuatu. Namun setiap orang, ketika sudah sampai ke makam justru berpisah dengan apa yang dicintai, oleh karena itu aku berjuang untuk mencintai setiap kebaikan agar hal ini mendampingiku di dalam kubur.
Kita mencintai banyak hal di dunia, mencintai istri, anak-anak, harta, kedudukan dan yang lainnya. Tapi sayangnya, ketika tubuh di letakkan ke dalam kubur, kita akan berpisah dari apa yang akan dicintai, dan nyatanya hanyalah kebaikan yang hakiki menemani hingga saat tersebut.
Lantas bagaimana cara agar memunculkan kebaikan-kebaikan yang kurang terlihat dari dalam diri?
Ketahuilah, jarak antara kita dengan setiap kebaikan adalah “cinta”. kebaikan apapun yang dicintai akan menjadi wujud nyata dalam kehidupan, akan tetapi kebaikan yang tak dicinta, tak akan berwujud nyata dan tak akan terealisasikan.
Oleh karena itu, jika muncul pertanyaan ‘berapa banyak kebaikan yang menjadi bagian kepribadian seseorang?’ Jawabannya adalah seberapa besar kecintaannya terhadap kebaikan- kebaikan.
Maka lihatlah, perbedaan kontras kualitas dan kuantitas kebaikan dengan kaum terdahulu, para Sahabat Tabi’in dan orang-orang sholeh, adalah kecintaan dalam kebaikan. Bagaimana mereka selalu berkejar-kejaran untuk mendapatkan kebaikan, kerinduan, dan rasa tak pernah puasnya mereka untuk meraih pundi-pundi amal sehingga amat jauh perbedaaan antara kita dengan mereka.
Oleh karena itu karena dikitnya kecintaan terhadap kebaikan sehingga sedikit sekali kebaikan yang menjadi kepribadian yang melekat dalam diri kita.

2. Aku melihat semua orang berusaha menjaga apapun yang memiliki nilai, padahal Allah ta’ala berfirman
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96).
Maka aku titipkan kepada Allah semua hal bernilai yang dimiliki, agar kelak semua hal tersebut akan kembali kepada ku
Semua orang berjuang menjaga hartanya yang dimiliki, menjaga emas, kendaraan dan apa saja yang amat berharga miliknya. Lihatlah betapa totalitasnya mayoritas manusia untuk mendapatkan serta menjaga hartanya, padahal melalui ayat diatas Allah memberi penjelasan bahwa kelak salah satu diantara diri kita dan harta pasti akan bercerai, baik harta yang akan meninggalkan kita atau kita yang akan meninggalkan harta. Oleh karena itu Hatim Al Ashom berkata “aku berusaha menyerahkan apapun yang ku miliki kepada Allah agar aku bersamanya kelak di kehidupan selanjutnya.

3. Aku mendengar Allah berfirman
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat kembali(nya).” (QS. An Naziat: 40-41)
Atas dasar itulah, aku mengendalikan hawa nafsu agar hati merasa tenang mengabdikan diri kepada Allah.

Seringkali terbesit pertanyaan; Mengapa hati tidak mudah menyatu dalam ibadah? Mengapa konsentrasi ketika ibadah sering pecah? Salah satu jawabannya adalah keinginan-keinginan hidup yang terlalu banyak. Keinginan-keinginan yang membentuk secara tak sadar merubah pola diri.
Maka perhatikanlah ayat diatas. Allah janjikan surga sebagai tempat kembali, hanya untuk orang-orang yang mempu mengendalikan hawa nafsu, dan dari keinginan-keinginan akan dunia yang berlebihan, akan tetapi Allah mengaitkan juga hal itu dengan 1 hal yang sangat penting, yaitu khouf (rasa takut).
Siapa yang takut kepada Allah, lalu dapat mengendalikan hawa nafsunya, mengendalikan keinginan sesuai kadar rasa takutnya kepada Allah. Maka itulah sebaik-baik pengendalian,karena semakin rendah rasa takut dalam hati akan semakin rendah kemampuan untuk mengendalikan nafsu, dan sebaliknya, semakin tinggi rasa takut maka semakin mudah mengendalikan hawa nafsu.
Disadari atau tidak, kehidupan ini begitu meletihkan yang disebabkan oleh tingginya angan keinginan dan nafsu, yang mendorong untuk terus melakukan kesibukkan tiada henti.
Oleh karena itu, Semakin tinggi keinginan, maka semakin banyak tuntutan agar hal itu terpenuhi, dan sebaliknya semakin sederhana keinginan maka akan makin mudah terpenuhi.

4. Aku melihat setiap manusia dihargai karena harta, kedudukan dan garis keturunan. Padahal Allah berfirman
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka aku berjuang untuk menjadi seorang yang taqwa dalam pandangan Allah, agar memiliki kemuliaan dalam pandanganNya.
Sayangnya, mayoritas manusia menilai satu dengan lainnya menggunakan sudut pandang keduniawian, baik itu dari segi kedudukan, kesuksesan, harta, dan keturunan yang bersanding pada dirinya. Maka pahamilah, sesuai terkutip pada ayat diatas, Allah azza wa jalla menilai tiap manusia disebabkan taqwa, maka jangan sampai membuat standar kemuliaan seseorang berbeda dengan standar penilaian Allah, karena Allah tidak ingin kita menilai seseorang bukan yang sesuai penilaian-Nya. Dan pasti, Allah akan membuat perhitungan jika kita berseberangan dengan Allah dalam menilai kepribadian seseorang.(bersambung)

✅Ikuti Kegiatan-kegiatan kami di,

FB : https://www.facebook.com/AmanahInsanMadani/

Youtube : https://www.youtube.com/user/sahabatyamima

Twitter : https://twitter.com/sahabat_yamima

Website : sahabatyamima.id

Penulis: Gufroni Ibnu Mujadid

Editor: Aditiya Bayu Nugroho

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY