Larangan Mencela Sahabat (1/2)

702
0
BERBAGI

 

Hadits Pertama

قال الشيخ عبد الرزاق بن عبد القادر الجيلاني: أخبرنا والدي قرائة عليه, و أنا أسمع: أخبرنا أبو غالب محمد بن الحسن بن أحمد بن الحسن الباقلاني الكرجي, أخبرنا أبو علي الحسن بن أحمد بن إبراهيم بن شاذان, أخبرنا عثمان بن أحمد بن السماك, حدثنا أحمد بن عبد الجبار, حدثنا أبو معاوية, عن الأعمش, عن أبي صالح, عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Qadir al Jiilany berkata: Telah mengabarkan kepadaku yaitu ayahku, dengan dibacakan kepadanya dan aku mendengar, Telah mengabarkan kepada kami Abu ghalib Muhammad bin al Hasan bi  Ahmad bin al Hasan al Baqilany al Karojiyy berkata; telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Ali al Hasan bin Ahmad bin Ibrahim bin Syaadzan berkata; telah mengabarkan kepada kami ‘Ustman bin Ahmad bin al Samaak berkata; berkata kepada kami Ahmad bin Abdul Jabbar berkata; telah berkata kepada kami Abu Mu’awiyyah dari al A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Said al Khudriyyi berkata;

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kalian mencela sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku berada ditanganNya, seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, maka hal itu tidak akan menyamai (infak) satu mudnya meraka bahkan tidak pula setengahnya”.

Penjelasan;

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

لا تسبوا أصحابي

Larangan yang bermakna pengharaman

Penggunaan kata ”  “لاdisebut dengan “al Nahyu” atau yang berarti larangan dalam kaedah ushul fiqih disebutkan;

الأصل في النهي للتحريم

Hukum asal dari suatu larangan adalah untuk pengharaman.

Larangan bisa dikatakan haram jika pada larangan tersebut memiliki ancaman (hukuman jika melakukannya). Karena kadang suatu larangan menunjukkan hukum makruh. Pada hadis ini selain menunjukkan larangan, ia juga memiliki ancaman, dalam riwayat yang lain Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من سب أصحابي فعليه لعنة الله

“Barang siapa yang mencela sahabatku maka baginya laknat Allah subhanahu wa ta’ala” (HR. ad Dailamy)

Pengharaman ini berfungsi untuk mencegah seseorang dari perbuatan yang telah ditentukan oleh nash ayat al Quran maupun hadis. Dan jika tetap melakukan perbuatan maka ia akan mendapat hukuman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Larangan menunjukkan perintah terhadap kebalikannya

Dalam kaedah ushul fiqih yang lain disebutkan;

النهي عن الشيئ أمر بضده

Pelarangan terhadap sesuatu adalah perintah untuk kebalikannya.

Kaedah yang kedua ini dapat memberi manfaat kepada kita untuk melakukan amal yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu melakukan amal yang menjadi kebalikan dari amal yang dilarang. Amal yang dilarang adalah mencela para sahabat, dan amal kebalikannya adalah memuliakan mereka. Maka hukum memuliakan para sahabat adalah wajib. Karena sahabat adalah orang-orang yang setia senantiasa menemani perjuangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan tanpa ada rasa takut dan gelisah dihati mereka. Para sahabat adalah generasi yang paling mulia diantara ummat ini.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka dan yang mengikuti mereka.

الشفا بتعريف حقوق المصطفى (2/ 308)

قال مالك رحمه الله من شتم النبي صلى الله عليه وسلم قتل ومن شتم أصحابه أدب

Siapa saja yang mencela Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam maka hukumannya adalah dibunuh, dan siapa yang yang mencela para sahabat maka hukumannya adalah dicambuk.

Fatwa Imam Malik rahimahullah telah terbukti kepada kaum syiah yang selalu mencela para sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Kaum syiah pada tanggal 10 Muharram atau biasa disebut Yaum ‘Asyuraa, mereka melakukan upacara yang tidak pernah dilakukan oleh satu ummat sebelum mereka, yaitu tathbib (meretapi kematian Husain radhiyallaahu ‘anhu). Pada upacara tathbib ini mereka menyakiti diri mereka sendiri dengan pukulan tangan maupun pisau. Mereka tidak sadar dengan kesesatannya, dan kesesatan itu (menyakiti diri) adalah hukuman untuk mereka dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hukuman tersebut adalah mirip dengan hukuman cambuk seperti apa yang telah difatwakan oleh Imam Ummat Islam, Malik bin Anas rahimahullaah.(bersambung)

 

Penulis: Ahmad Yasin

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY