Bersabar dalam dakwah

1088
0
BERBAGI

 

Sahabat, belum lama terdengar berita penolakan oleh sebagian orang terhadap kajian Sunnah di Sidoarjo. Berita ini sangat mengagetkan kita semua, karena di saat umat kita sedang di uji oleh berbagai ancaman dari luar yaitu kaum kafir, musyrik dan munafik ada saja segelintir orang yang melemahkan kita dari dalam. Sahabat mari kita sudahi debat kita terkait persoalan ini, mari kita doakan agar mereka yang mengusir segera mendapat hidayah. Sekarang adalah waktu untuk kita berbagi ilmu kepada orang yang awam, memberi kepada yang tak mampu dan menjadi pengayom untuk keluarga kita. Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari kejadian tersebut,yang paling penting adalah kesabaran kita sebagai seorang muslim. Balaslah keburukan dengan kebaikan, cacian dengan senyuman dan kejahilan dengan kebijaksanaan.

Mari kita jadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan dan panutan kita dalam menyikapi permasalahan. Kita memang bukan Rasulullah tapi sudah sepatutnya sebagai seorang muslim kita mencontoh apa yang dilakukannya..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah dengan santun, lembut dan penuh kasih sayang. Begitu banyak kisah beliau yang sangat mengharukan saat melakukan perjalanan dakwah menyebarkan Islam.

Salah satu kisah yang memilukan adalah saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi berdakwah ke Thaif, salah satu kota di Arab yang terkenal dengan kesejukannya dan juga dengan perkebunan delima dan sayurannya. Saat itu Rasulullah telah ditinggal selama-lamanya oleh Paman nya Abu Thalib, kemudian Rasulullah berusaha untuk mencari tempat baru untuk berdakwah di tengah kepungan kaum Quraisy di Mekah. Thaif menjadi tujuan Rasulullah dengan penuh harapan penduduk Thaif akan menerima kedatangannya dan beliau bisa mendakwahkan Islam disana. Tapi takdir berkata lain, penduduk Thaif menolak kedatangan Rasulullah, mereka melempari Rasulullah dengan batu hingga membuat kakinya terluka. Sahabat Zaid bin Haritsah yang tak tega melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilempari batu berusaha melindunginya sampai ia pun terkena lemparan di kepalanya.

Keadaan ini diceritakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ditanya oleh istri tersayang, yaitu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ عَلَيْكَ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ قَالَ لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ فَنَادَانِي فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمْ الْأَخْشَبَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Apakah pernah datang kepadamu (Anda pernah mengalami-Pen.) satu hari yang lebih berat dibandingkan dengan saat perang Uhud?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Aku telah mengalami penderitaan dari kaummu. Penderitaan paling berat yang aku rasakan, yaitu saat ‘Aqabah, saat aku menawarkan diri kepada Ibnu ‘Abdi Yalîl bin Abdi Kulal, tetapi ia tidak memenuhi permintaanku. Aku pun pergi dengan wajah bersedih. Aku tidak menyadari diri kecuali ketika di Qarnust-Tsa’âlib, lalu aku angkat kepalaku. Tiba-tiba aku berada di bawah awan yang sedang menaungiku. Aku perhatikan awan itu, ternyata ada Malaikat Jibril, lalu ia memanggilku dan berseru: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung memanggilku, mengucapkan salam lalu berkata: ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”

Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. [HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim].

 

Subhanallah, lihat bagaimana jawaban Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menghadapai penolakan yang luar biasa di Thaif. Bahkan Jibril datang untuk memberitakan kepada Rasul bahwa jika ia berdoa agar gunung itu dijatuhkan kepada kaum Thaif maka Allah akan mengabulkan doanya tersebut dan malaikat siap menjatuhkannya. Lihat apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan beliau meminta Jibril untuk jangan melakukan itu dan beliau berdoa agar dari keturunan kaum Thaif adalah orang yang tidak mempersekutukan Allah dan selalu beribadah kepada-Nya.

Tantangan yang kita hadapi dalam berdakwah apa seberat Rasulullah ? tentu tidak, oleh karena itu sahabat sudah seharusnya kita sebagai muslim yang taat dan senantiasa mengikuti langkah para sahabat dan salafus shalih untuk bersikap bijak dan tidak merespon kejadian ini dengan kemarahan atau sebagainya. Berikanlah sikap terbaik kita kepada saudara kita sesame muslim, berdoa agar selluruh umat Islam selalu diberikan hidayah hingga akhir hayat tiba.

Wallahu ‘alam bissawab.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY