3 Dulu Aja…(Lanjutan)

713
0
BERBAGI

 

🌷Mengenal Agama Islam🌷

 

Tingkatan 1_Islam

 

🎙Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata:

مَعْرِفَةُ دِيْنِ الإِسْلَامِ بِالأَدِلَّةِ

“Mengetahui Agama Islam dengan dalil-dalil” yang dimaksud yaitu dalil Al-Qur’an dan Sunnah.

Makna Agama : Ketaatan dan Tahuid serta segala yang berhubungan dengan penyembahan kepada Allah.

Makna Islam :  Berserah diri kepada Allah dengan mentahuidkannya , sungguh-sungguh dalam ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya (pentolannya).

 

� 4. Syaraat menjadi Muslim Sejati:

  1. Berserah diri sepenuhnya dalam peribadatan kepada Allah
  2. Sungguh-sungguh dalam ketaatan
  3. Berlepas dari dari pembatal-pembatal Islam
  4. Berlepas diri kepada pentolan kesyirikan

 

🎙Tingkatan Agama Islam ada 3:

  1. Islam
  2. Iman
  3. Ihsan

Setiap Tingkatan mempunyai rukun. Untuk pertemuan kali ini, akan kita bahas secara terperinci tingkatan yang pertama yaitu Islam.

 

  1. Rukun Islam ada 5, yaitu:

Syahadat ( أَشْهَدُ ألَا إِلَٰهَ إِلَّا الله وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله)a.

Allah Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Ali Imran : 18)

Makna yang benar dari kalimat لَا إِلَٰهَ إِلَّا الله adalah Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Ta’ala. Jadi arti “Tidak ada tuhan selain Allah” yang masyhur di masyarakat ini kurang dan tidak tepat. Kalimat Tauhid diatas mempunyai 2 rukun dan 7 Syarat yang harus diketahui oleh kita semua:

Rukun Kalimat Tauhid

  1. Nafyi (Peniadaan) sesembahan selain Allah
  2. Istbat (Penetapan) bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada setupu sekutu yang menandinginya.

Syarat Kalimat Tauhid

  1. Ilmu, sebagaimana telah kita bahas sebelumnya bahwa kita beribadah butuh ilmu.
  2. Yakin, ilmu itu akan menimbulkan keyakinan yang mantap.
  3. Menerima, kemudian menerima atau pasrah dengan ketentuan Allah.
  4. Sungguh-sungguh, lalu sungguh-sungguh dalam menjalankan agama ini.
  5. Membenarkan, tidak ada kedustaan di dalam beragama, maksudnya adalah mempunyai sifat pura-pura
  6. Ikhlas, sehingga dalam prakteknya akan menghasilkan rasa ikhlas
  7. Cinta, kalau sudah ikhlas lama kelamaan akan timbul rasa cinta.

Jadi hal diatas harus kita hafalkan, lalu coba praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Semua Amalan (rukun dan syarat) di atas adalah amalan hati, butuh kemantapan hati yang siap berkorban demi agama Allah, kemudian pembuktiannya di perbuatan nyata.

Berikut ayat-ayat yang menafsirkan ayat diatas, sebagaimana kita tahu bahwa dalam Ilmu Tafsir itu ada beberapa tingkatan dalam menafsirkan ayat, diantaranya : Tafsir ayat dengan ayat yang lain, kemudian tafsir ayat dengan hadist dan seterusnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27) وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ (28)

 

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah,

Tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.

Dan (lbrahim Alaihissalam.) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu” (QS. Az-Zukhruf : 26-28)

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(QS. Al-Imran: 64)

Setelah kita bahas makna syahadat kepada Allah, kemudian kita bahas syahadat kepada Rasululllah salallahu ‘alaihissalam.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah : 128)

Makna syahadat kepada Rasul yaitu,

  1. Taat kepada apa saja yang diperintahkannya

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An-Nisa’ : 80)

  1. Membenarkan apa saja yang dibawanya (wahyu)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ(4)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsu (Nabi Muhammad), Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm : 3-4)

  1. Meninggalkan apa saja yang dilarang olehnya

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr : 7)

  1. Tidak beribadah kecuali dengan apa yang disyariatkan olehnya. Jadi tidak boleh beribadah dengan hawa nafsu dan bid’ah.

Nabi salallahu alaihissalam bersabda:

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada tuntunan dari kami (agama islam) maka amalan itu tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Shalat

Shalat secara bahasa maknaya adalah do’a, adapun secara istilah suatu perbuatan dan perkataan untuk beribadah kepada Allah, yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Adapun perincian mengenai shalat ada pembahasannya sendiri dalam kitab-kitab fiqh.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

 

  1. Zakat

Zakat Secara bahasa artinya bertambah/tumbuh (الزِيَادَةُ و النَّماءُ). Adapun secara istilah yaitu Harta khsusus yang diambil dari suatu golongan khusus dan diberikan kepada golongan khusus juga dengan ketentuan jumlah (timbangan) yang telah  digariskan syariat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

 

 

  1. Puasa

Puasa secara bahasa adalah menahan (الإمساك), sedangkan secara istilah yaitu menahan pembatal-pembatal puasa (seperti makan, minum, jimak dll) mulai dari Terbit matahari sampai terbenam matahari dalam rangka beribadah kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”(QS. Al-Baqarah : 183)

 

  1. Haji bagi yang mampu

Haji secara bahasa adalah sengaja mempunyai maksud tertentu (القَصْدُ), adapun secara istilah adalah bermasud untuk berkunjung ke mekkah dengan amalan khsusu (haji) dan pada waktu khusus.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Imran : 97)

 

Rukun Islam yang 5 ada di dalam hadist berikut ini;

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata:

“Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya….” (HR.Muslim)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridhai keduanya (Umar dan anaknya)- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Islam dibangun atas 5 (rukun): Persaksian (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan sholat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan (HR Al-Bukhari dan Muslim)

 

🌹Inilah rukun Islam yang wajib bagi umat Islam untuk mengerjakannya, tidak boleh sekalipun mengingkari perkara ini, karena barangsiapa yang tidak percya atau membangkang dari salah satu rukun di atas maka dia keluar dari Islam…(bersambung)

 

Ahmad Jafar

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY