Manisnya Iman

856
0
BERBAGI

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَلَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya ALLAH dan Rasul-NYA lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena ALLAH. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari)

Secara umum faedah hadits diatas adalah, untuk merasakan manisnya iman, maka kita harus melakukan tiga hal;

  1. Mencintai Allah dan RasulNya, dan cinta itu melebihi cinta terhadap selain keduanya.
  1. Mencintai sesama muslim karena Allah.
  1. Benci kembali kepada kekufuran atau kemaksiatan setelah ia bertaubat darinya
  1. Mencintai Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallaahu’alaihi wa sallam.

Makna cinta adalah ittiba’ (mengikuti). Ittiba’ adalah tunduk dan patuh terhadap apa yang Allah subhanahu wa ta’ala dan RasulNya perintahkan serta menjauhi apa yang keduanya larang. Dalil dari hal ini ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُاللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang. (QS. Ali Imran: 31)

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا أَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُفَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

Artinya:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. al Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut diatas sudah cukup untuk menjadi hujjah atas kita, karena tiada cinta kecuali ada pada ittiba’. Dalam suatu kaedah disebutkan,

إِثْبَاتُ الشَّيْئِ نَفْيٌ عَنْ ضِدِّهِ

“Penetapan sesuatu itu bermakna meniadakan kebalikannya”

Jadi ketika ditetapkan dalam al Quran bahwa cinta itu adalah ittiba’, maka ketika tidak ittiba’ tiada cinta dalam dirinya, wal ‘iyaadzubillaah.

Bagaimana cara kita bisa ittiba’ terhadap perintah Allah dan RasulNya sedangkan kita tidak bertemu Rasulullah shallallaahu ‘alihi wa sallam?

Rasulullaah shallallaahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَلَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُأَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham tapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil sesuatu yang sangat besar” (HR. Abu Daud)

Ulama adalah pewaris Nabi shallallaahu ‘alihi wa sallam, dan Nabishallallaahu ‘alihi wa sallam tidak mewariskan apapun kecuali ilmu. Dengan ilmu kita akan bisa mengetahui perangkat-perangkat untuk ittiba’. Maka ambillah ilmu-ilmu tersebut dari para ‘ulama.

Ulama adalah mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala beri pengetahuan, dan sifat mereka adalah rasa takutnya sangat tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan juga mereka menyampaikan ilmu kepada ummat tidak mengharap imbalan kecuali ridhonya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,hanyalah ulama” (QS. Faathir : 28).

Al-Hafidh Ibnu Katsiir rahimahullah berkata:

أي: إنما يخشاه حق خشيته العلماء العارفون به؛ لأنه كلما كانتالمعرفة للعظيم القدير العليم الموصوف بصفات الكمال المنعوت بالأسماء الحسنى -كلما كانت المعرفة به أتمّ والعلم به أكمل، كانت الخشية لهأعظم وأكثر

“Yaitu: orang-orang yang takut kepada-Nya dengan sebenar-benarnya hanyalah para ulama yang mengenal-Nya. Karena, setiap kali pengetahuan tentang Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui serta memiliki sifat-sifat yang sempurna dan nama-nama-Nya yang baik; semakin sempurna dan semakin lengkap, maka setiap kali itu pula rasa takut semakin besar dan semakin banyak”

Maka penting bagi kita untuk mencintai para ulama rabbani. Agar kita bisa memiliki ghirah atau semangat untuk mengambil ilmu dari mereka dan mengamalkannya. Itulah nikmat iman yang pertama, yaitu nikmat beramal atas dasar ittiba’ dan cinta.

  1. Mencintai sesama muslim karena Allah.

Mencintai sesama muslim contohnya menjaga ukhuwah antar sesama,dan hal itu bisa diwujudkan dengan adanya muamalah yang baik, saling membantu dalam kebaikan, menjenguk ketika sakit dsb.. Mencintai karena Allah memiliki konsekwensi, pertama dia harus dalam koridor islam dan untuk islam. Kedua, jika ada sesuatu dari salah satunya yang merusak islam maka kewajibannya adalah mengingatkan dengan nasihat atau menjauhinya. Karena akhlak yang buruk adalah menular.

Orang yang saling mencintai karena Allah, maka ia akan mendapatkan naungan dari Allah subhanahu wa ta’ala pada hari tiada naungan kecuali naunganNya. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihin wa sallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ… وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِوَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah subhanahu wa ta’ala pada hari tiada naungan kecuali naunganNya,… dua orang yang saling mencintai dan berpisah karena Allah subhanahu wa ta’ala” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan juga saling mencintai karena Allah adalah salah satu daripada bukti iman, karena sesama muslim memiliki kepentingan yang sama, yaitu sama-sama menuju akhirat dan menggapai ridhoNya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىتُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا, أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍإِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian mengerjakannya maka kalian akan saling mencintai?, tebarkanlah salam” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban)

Hadits diatas juga menunjukan kepada kita bahwa salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta adalah dengan menebarkan salam. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِذَا أَحَبَّالرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ

“Jika seseorang mencintai temannya maka hendaklah ia mengabarkannya bahwa ia mencintainya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad)

Dalam hal ini yang dimaksud dengan cinta adalah cinta kepada sesama, yaitu laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan dengan tujuan untuk saling membantu menggapai ridho Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala hal. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah saling tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah: 2)

  1. Benci kembali kepada kekufuran atau kemaksiatan yang ia telah bertaubat darinya.

Yaitu seseorang yang telah melakukan kekufuran atau kemaksiatan kemudian ia bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya taubat. Dan taubat yang benar adalah dengan adanya permohonan ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, penyesalan terhadap apa yang telah ia perbuat, dan berusaha untuk tidak kembali melakukannya.

Allah subhanahu wa ta’ala menerima pertaubatan seluruh hambaNya, dan akan mengampuni segala dosa-dosanya dengan syarat ia melakukan pertaubatan yang sebenar-benarnya taubat. Dalil dari hal tersebut ialah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَ هُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُالتَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَ يَعْفُوْ عَنِ السَّيِّئَاتِ

“Dan dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hambaNya, dan Dia juga menghapus semua keburukan (dosa).” (QS. AsySyura: 25)

Setelah ia bertaubat, maka ia akan selalu mengingat dosa-dosa yang telah ia perbuat, Sehingga ia akan selalu ingat dan takut untuk melakukannya lagi. Maka ia senantiasa akan selalu berbuat baik untuk menggapai ridho Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika hati sudah tertambat dengan Allah subhanahu wa ta’ala maka itu merupakan nikmat dan anugerah yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tiada yang lebih nikmat dalam dunia ini kecuali hati yang selalu ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan selalu menjaganya karena hati memang benar-benar mencintai Allah. Derajat mencintai Allah menjadi orang yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala, dan itulah harapan yang diinginkan. Agar mendapatkan ridho, nikmat dan surgaNya. Semoga kita mendapatkannya dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga kita menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan qolbun saliim (hati yang selamat). Aamiin.

Akhukum fillaah,

Ahmad Yasin bin Imam Bukhari,

–Semoga Bermanfaat–

Artikel dan info lainnya tentang Yamima juga bisa anda dapatkan melalui:

Website : http://bit.ly/2CO68ES

Facebook : http://bit.ly/2DvN5Rh

Instagram: http://bit.ly/2sKUjeb

Twitter : http://bit.ly/2Wjo7fl

Youtube : http://bit.ly/2WgTIhN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY