Mantan Preman Mati Syahid

596
0
BERBAGI

 

 

Syaikh Khalid Ar-Rasyid mengisahkan,

Ada 3 pemuda yang melalaikan agamanya. Ketiganya bersahabat akrab dan saling menyokong untuk berbuat maksiat. Salah seorang mereka lalu mendapat hidayah, dan berusaha mengajak 2 sahabatnya untuk berubah.

Setelah beberapa lama menasihati keduanya, akhirnya mereka ikut menjadi baik. Hidup mereka kini telah berubah, awalnya mereka saling bekerja sama untuk maksiat, sekarang berubah menjadi taat.

Untuk mengganti masa lalu, mereka sepakat menggunakan sisa umur untuk beribadah kepada Allah. Mereka kompak untuk berkumpul 1 jam sebelum subuh setiap hari di rumah yang telah disepakati, lalu sholat di masjid.

Suatu ketika salah seorang mereka terlambat, sedangkan waktu yang tersisa hingga subuh hanya 30 menit. Setelah datang ia berkata kepada kedua kawannya, “Kita manfaatkan waktu yang ada!”

Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekat mereka. Si pengendara mobil itu menyetel musik dengan suara keras, padahal sudah mendekati waktu subuh. Tiga sekawan itu satu-persatu mulai memberi isyarat kepadanya supaya mematikan musik, namun ia enggan dan tidak peduli. Karena merasa terusik orang itu pergi dengan mobilnya.

Salah seorang mereka meminta pendapat kedua kawannya, “Menurut kalian bagaimana jika kita mengikuti orang itu, siapa tahu dia akan mendapat hidayah?”

Mereka sepakat untuk mengikuti dari belakang dan memberinya nasihat. Ternyata yang keluar adalah seorang pemuda yang kekar dan berbadan tegap. Dengan wajah senyum mereka mendekati si pemuda, dan mengucapkan salam. Si pemuda berkata, “Kalian mau apa?”

Salah seorang mereka menjawab, “Wahai saudaraku, tidakkah kamu tahu ini adalah waktu mustajab. Apapun kebutuhan yang kamu pinta, Allah akan memberikannya!”

Si pemuda bertanya, “Tahukah kalian siapa aku?”

Mereka bertanya, “Siapa kamu?”

Si pemuda menjawab, “Aku adalah Hassan, yang neraka tidak tercipta kecuali untukku!”

Mereka mencoba mengingatkan, “Ampunan Allah begitu luas. Allah maha penyayang. Allah mengampunkan segala dosa.”

Mereka mengingatkan dengan lembut, hingga Hassan menangis.

Hassan bertanya, “Apakah Allah masih menerimaku? Tidak ada satu kemaksiatan pun kecuali pernah aku lakukan.”

Mereka menjawab, “Ya. Bahkan Allah akan mengganti keburukan kita dengan kebaikan.”

Hassan berkata, “Bahkan aku sekarang pun sedang dalam kondisi maksiat. Aku sedang mabuk-mabukan.”

Mereka pun memeluk Hassan. Setelah itu mereka ajak ke rumah mereka yang terdekat. Ia mandi, memakai wewangian, memakai baju rapi, dan pergi bersama mereka ke masjid. Inilah sholat pertama yang ia jalani, setelah ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya.

Hassan berkata, “Bertahun-tahun lamanya aku tidak mengenal Allah. Aku tidak mengenal perintah dan larangan-Nya. Selama itu aku tidak pernah sholat satu rakaat pun.”

Mereka bersama-sama memasuki masjid. Saat itu imam membaca ayat-ayat yang berkaitan dengan surga, hingga sampailah pada ayat;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Tatkala mendengar ayat itu, Hassan langsung menangis tersedu-sedu. Setelah sholat selesai, jamaah masjid menyambutnya dan memberikan selamat atas taubatnya.

Beberapa saat kemudian, Hassan berkata kepada para pemuda itu, “Aku memiliki 2 orang tua yang sudah tua renta. Mereka membutuhkan kehadiranku saat umur mereka semakin bertambah. Aku ingin bertemu dengan ayahku. Ayahku ada di masjid anu, ia biasa duduk di sana hingga matahari terbit.”

Mereka pun ikut mengantarkan Hassan ke tempat yang dituju. Tatkala sudah sampai, mereka mendapati bapak-bapak yang telah tua, matanya telah sayup, badannya lemah. Hassan berkata, “Beliau adalah ayahku!”.

Mereka pun mendatangi dan mengucap salam kepdanya, seraya menyampaikan, “Kami datang bersama Hassan.”

Ayahnya menjawab, “Hassan?”

“Semoga Allah memberimu minum dari neraka, wahai Hassan. Semoga Allah mengazabmu sebagaimana kamu telah mengazab kami!”

Hassan pun nangis tersedu, dan tersungkur ke tanah.

Mereka mengatakan, “Wahai bapak, sesungguhnya Hassan datang dalam kondisi telah bertaubat, dan kembali kepada Allah!”

Bapaknya terheran, “Hassan bertaubat?”

Mereka meyakinkan, “Iya. Dia sholat subuh berjamaah. Ia telah mengubah hidupnya. Ia telah bergabung bersama kafilah orang-orang yang bertaubat!”

Karena demikian bahagia, ayahnya menangis dan memeluk Hassan. Mereka bertiga pun ikut menangis karena bahagia.

Setelah itu mereka juga menemui ibunya, ibunya pun ikut menangis karenanya.

Hassan mulai mengubah hidupnya. Ia datangi rumah Allah, dan masuk ke halaqah Al-Quran, hingga kondisinya berubah 180 derajat. Semakin bertambah hari bertambah pula amal ibadahnya. Namun ia merasa dirinya penuh dengan dosa, tiada amal yang bisa menghapuskannya, kecuali ia harus berjihad di jalan Allah.

Ia pun mencoba mendatangi ayahnya, seraya meminta ijin, “Ayah, aku ingin berangkat ke medan jihad.”

Ayahnya menjawab, “Hassan, kami bahagia dengan kepulangan, hidayah, dan istiqomahmu. Apakah sekarang kamu ingin meninggalkan kami?”

Hassan menjawab, “Ayah, jika engkau mencintaiku, mohon jangan halangi aku dari syahid di jalan Allah.”

Kemudian ayahnya menjawab, “Boleh, jika ibumu setuju.”

Hassan pun mendatangi sang ibu, “Wahai ibu, ijinkanlah aku untuk berangkat ke medan jihad. Sebab aku memiliki dosa yang tak akan terampuni kecuali dengan jihad di jalan Allah.”

Ibunya menjawab, “Hassan, kami sudah bahagia dengan kepulanganmu, apakah sekarang kamu ingin meninggalkan kami?”

Hassan kembali berkata, “Ibu, jika engkau mencintaiku, biarkanlah aku berangkat ke medan jihad.”

Ibunya menjawab, “Baik, tapi dengan syarat, kamu harus memberi kami syafaat pada hari kiamat!”

Hassan pun mempelajari metode berperang dalam waktu hanya beberapa bulan, ia i’dad hingga mampu menjadi seorang mujahid. Hingga akhirnya ia ikut dalam kancah peperangan.

Para mujahidin bercerita, “Hassan adalah sosok pemberani, kekar, dan tegap. Kami melihatnya begitu takjub, kehidupannya penuh dengan puasa dan tahajud. Suatu ketika kami diserang dari udara dan darat, tiada satu pun dari kami yang terkena sasaran, kecuali Hassan. Kami pun segera mendatanginya, ternyata tulangnya telah hancur dan ia penuh bersimbah darah.

Kami bertanya, “Wahai Hassan, bagaimana kondisimu?”

Hassan menjawab, “Diamlah, aku sedang mendengar bidadari memanggilku dari belakang gunung.”

Subhanallah… Hassan berpulang dalam kondisi syahid.

 

Kisah ini disarikan dari muhadharah; https://www.youtube.com/watch?v=zznEnqR9vg4

 

Redaksi Sahabat Yamima

 

 

 

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY