Refugees Welcome to hell_ (pengungsi selamat datang di neraka)

358
0
BERBAGI

Oleh | Rizal abu Fathi 

Salah satu tulisan di senjata seorang pembunuh di 2 masjid selandia Baru itu Refugees welcome to hell (pengungsi selamat datang di neraka)
Dunia masih tercengang Tak habis pikir mengapa ada manusia seperti Brenton Tarrant.
Menenteng senjata semi otomatis yang penuh coretan mantra ia tuju sebuah masjid yang sedang bersiap menggelar solat jum’at. Senjata yang ia tenteng menyalak, puluhan jamaah roboh bersimbah darah. 
Semua ia siarkan penuh kebanggaan melalui Facebook. Hingga kini, 50 orang dilaporkan tewas.

Sebenarnya, motif Brenton dapat diketahui sejak ia menyanyikan sebuah lagu saat masih mengendarai mobil. 
Lagu berisi pujian untuk Radovan Karadzic, aktor genosida utama pembunuhan etnis muslim Bosnia, 1995 silam. 
Motif lebih jelas terlihat dari manifesto yang ia unggah, dan coretan-coretan pada senjata yang ia gunakan untuk membantai umat Islam.

Sebagian coretan laksana mantra itu berupa nama-nama tokoh perlawanan terhadap kaum Muslim. Mulai Alexandre Bissonnette yang menyerbu masjid di kota Quebec tahun 2017 hingga nama-nama pasukan dan panglima Kristen yang berhasil menaklukkan tentara Khilafah Utsmaniyah.

Dendam bermotif agama itulah yang membuat Brenton sebenarnya tidak sendirian. Apalagi ia penganut ekstrimis sayap kanan yang anti-Islam dan anti-imigran. 
Kelompok inilah yang menjadi motor kampanye Islamophobia dalam sebuah gerakan Counter Jihad Movement (CJM). Mereka juga aktif bertukar pikiran dan gagasan di internet, di antaranya Counter Jihad Forum.

Dengan kebanggaan kepada nilai-nilai Judeo-Christian dan liberalism, CJM aktif meyakinkan publik bahwa Islam sedang berperang melawan Barat, dan kaum Muslimin secara diam-diam ingin melakukan Islamisasi di negeri mereka. Selain itu, CJM suka terus menyerang negara-negara yang dinilai terlalu lembek terhadap imigran Muslim. Narasi semacam itulah yang kemudian melahirkan Brenton Tarrant. (Kiblat.net

Geliat islamophobia ini telah menyebar luas di Eropa dan negara-negara dalam berbagai bentuk, para pendukung gerakan anti Islam secara terang-terangan menyebarkan propaganda islamophobia dengan berbagai sarana.
Salah satunya adalah organisasi bernama _“pegida”_ yang lahir di Dresden, Jerman pada oktober 2014 lalu.

Pegida adalah sebuah gerakan “patrioties eropa menentang islamisasi”.
Pemerintah barat juga terus menerus menyebarkan citra buruk mengenai Islam dan muslim yang mereka identikkan dengan teroris.

Di Indonesia yang mayoritas muslim mengambil peran yang sama seperti yang di sebutkan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSIST) Adnin Armas menyebutkan islamophobia bisa jadi tidak hanya terjadi di Eropa dan Amerika, tetapi juga di Indonesia. 
Ia mengungkapkan bahwa indikatornya sudah muncul, orang-orang yang ingin berkontribusi dan mencintai agama ini bisa dituduh konservatif, fundamentalis, radikal, anti barat, anti NKRI dan fitnah-fitnah lain. 

Sahabat, 
Berenton Tarrant bisa jadi sudah di tangkap oleh pemerintahan setempat, tapi Ideologi pemikiran Tarant yang lain sampai hari ini masih banyak berkeliaran dan akan tumbuh berkembang.

Kita boleh takut saat melewati kegelapan, tapi kalau tidak melewatinya, kita takkan pernah sampai pada cahaya yang kita inginkan.”

“Ada 2 cara untuk menyebarkan cahaya. Jadilah lilin yang menyebarkan cahaya atau Jadilah cermin yang memantulkan sinarnya”
menyekolahkan dan menyiapkan generasi yang akan menjelaskan juga menda’wahkan apa itu Islam solusi yang tepat bisa kita ambil hari ini.

Barokallahufiikum 
Bekasi 21 maret 2019

———–♡♡——-♡♡—-
🎓 Yuk menjadi orang tua asuh 50 calon ulama yang sedang menutut ilmu di timur tengah Mesir, sudan dan yaman.

Info program
| Rizal abu Fathi
0852 1861 6689 

✒ Atau kunjungi kami di 
Sahabatyamima.id
IG : @sahabatyamima
FanPage : Sahabat Yamima
Youtube : Sahabat Yamima Channel

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY