AWAL MADRASAH SHALIHIYAH DI MESIR

444
0
BERBAGI

Oleh | Redaktur sahabat yamima

Madrasah Shalihiyah adalah madrasah dengan pengajaran fiqih 4 Madzhab pertama di dunia. Tempat ini dinisbatkan kepada Sultan terakhir dari Dinasti Ayyubiyah Salih Najmudin Ayyub yang merupakan sumber dari konsep baru yang ditawarkan dalam dunia pendidikan Islam.

Melihat kondisi Madaris dan Masajid (sekolah dan masjid) yang ada di Mesir kebanyakan hanya mengajarkan Madzhab tertentu atau cabang ilmu tertentu, Shalih Najmudin Ayyub mengambil gerakan baru untuk menggabungkan pengajaran fiqh 4 Madzhab pada tahun 1250an.

Imbas positif nampaknya mulai berkembang, masyarakat mulai mengenal perbedaan cara pandang ulama Madzhab dalam permasalahan tertentu. Tak hanya itu, perlahan masyarakat mulai mengurangi fanatik buta temadzhab suatu madzhab.

Fanatisme dalam bermadzhab tentu sudah lama berlangsung dengan banyak sekali gesekan dalam masyarakat, diantaranya adalah larangan menikah bagi calon pengantin yang berbeda Madzhab Fiqih.

Fenomena fanatik buta zaman sekarang sangat berbeda dengan apa yang terjadi di zaman Salih
Najmudin Ayyub, sehingga dengan hadirnya konsep baru ini melahirkan insan yang tasamuh. Fanatik terhadap sesuatu yang diyakini memang sangat sensitif dalam pelaksanaannya sehingga terkadang tidak memberikan ruang untuk pandangan apapun selainnya.

Salah satu contoh dalam pengenalan 4 Madzhab khususnya yang dibawakan oleh Madrasah Shalihiyah adalah dalam praktek sholat, mereka mulai membiasakan untuk tampil dengan berbeda Madzhab untuk setiap sholatnya, misal dzuhur dengan imam bermadzhab Maliki, Ashar dengan Hambali, Maghrib dengan Syafii dan seterusnya.

Para penuntut ilmu tak hanya datang dari Mesir saja, datang dari berbagai penjuru dunia untuk berpindah-pindah dalam rihlah mencari ilmu. Peralatan yang dimiliki untuk belajar pun tak banyak, cukup dengan pena dan tinta atau kapur serta papan kayu atau kulit untuk mencatat. Tak jarang dari mereka menggunakan tulang hewan sebagai media belajar nya. Zaman modern telah merubah itu semua, meski masih bisa ditemukan sistem lawas itu di beberapa daerah tertinggal di dunia. Namun semakin mudah fasilitas menjadikan para siswa menurun dalam semangat dan berkarya. Mungkin jika Imam Syafi’i ada di zaman Internet, Google pun akan kalah dengan nya karena kecerdasannya ditambah dengan semangatnya dikali dengan teknologi dibagi dengan waktu akan menghasilkan keajaiban.

Barokallahfiikum 
===♡♡=====♡♡====
Yuk menjadi orang tua asuh (orang tua para ulama) hanya 20-50rb/hr untuk 100 calon ulama yang sedang menuntut ilmu di timur tengah. 
Info | 0852 1861 6689 
Rizal

Atau simak kami di 
✒ sahabatyamima.id 
FanPage | sahabat yamima 
IG | @sahabat yamima 
Youtube | sahabat yamima channel

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY