Nikmatnya Musibah Ummu Salamah

243
0
BERBAGI

Oleh | Bella Rizki Fauziah (kader sahabat yamima)

Bagaimana mungkin pada suatu musibah ada kenikmatan?
Sungguh jika seseorang mengetahui hakikat apa yang terdapat dibalik musibah maka ia akan merasakan suatu kenikmatan tersendiri yang akan memunculkan kesabaran, kesyukuran bahkan keridhaan terhadap takdir Allah Azza wa Jalla.
Mari kita membaca sepintas penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :


” فمن تمام نعمة الله على عباده المؤمنين أن ينزل بهم الشدة والضر ما يلجئهم إلى توحيده فيدعونه مخلصين له الدين ويرجونه لا يرجون أحدا سواه، وتتعلق قلوبهم به لا بغيره ، فيحصل لهم من التوكل عليه والإنابة إليه، وحلاوة الإيمان وذوق طعمه، والبراءة من الشرك ما هو أعظم نعمة عليهم من زوال المرض والخوف، أو الجدب، أو حصول اليسر وزوال العسر في المعيشة، فإن ذلك لذات بدنية ونعم دنيوية قد يحصل للكافر منها أعظم مما يحصل للمؤمن. وأما ما يحصل لأهل التوحيد المخلصين لله الدين فأعظم من أن يعبر عن كنهه مقال، أو يستحضر تفصيله بال، ولكل مؤمن من ذلك نصيب بقدر إيمانه “.

Maka diantara kesempurnaan nikmat Allah terhadap hamba-Nya yang beriman adalah menurunkan kepada mereka musibah, bahaya dan perkara yang bisa menjadikan mereka bersandar untuk mentauhidkan-Nya, berdoa kepada-Nya dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, menjadikan mereka mengharap hanya kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya, menjadikan hati mereka tergantung kepada-Nya, tidak kepada selain-Nya, maka merekapun merasakan ketawakkalan hanya kepada-Nya, taubat hanya kepada-Nya, serta manisnya keimanan, dan lezatnya rasanya, dan terlepasnya dari kesyirikan yang merupakan kenikmatan bagi meraka yang lebih besar dari sekedar hilangnya penyakit, rasa khawatir, dan mendapatkan kemudahan serta hilangnya kesulitan dalam mata pencarian, maka sungguh perkara ini merupakan kelezatan badan dan kenikmatan dunia semata yang kadang juga dirasakan oleh orang kafir, adapun yang didapatkan ahli tauhid yang mengikhlaskan ibadah kepada Allah maka itu lebih agung daripada yang bisa terucapkan oleh ucapan, atau yang dijelaskan rinciannya, dan setiap orang beriman akan mendapatkan bagian dari kenikmatan tersebut sesuai kadar keimanannya.
Majmu’ Al Fatawa (10/333).

Cerita singkat yang dapat kita teladani dari Ummahat Hsahabiyyah, kisahnya tak terperikan kesedihan yang merundung hati Ummu Salamah. Sang Suami Abu Salamah baru saja meninggal di pangkuannya. Abu Salamah menderita luka-luka hebat selepas kepulangannya dari Perang Uhud. Ia harus menjanda dan membesarkan anak-anaknya yang telah yatim.
Rasulullah pun datang bertakziyah agar meredakan lara di hati Ummu Salamah. Rasulullah berpesan agar Ummu Salamah bisa tabah dan tegar dalam menghadapi musibah. “Siapa yang ditimpa suatu musibah, maka ucapkanlah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan),” sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.
Rasulullah pun menasihatinya. Orang yang bersabar dan ikhlas ketika ditimpa suatu kehilangan, maka Allah Subhaanahu Wata’ala akan memberikan ganti yang lebih baik dari itu. Rasulullah pun sempat mendoakan Ummu Salamah, “Ya Allah, berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia dari musibah yang menimpanya, dan berilah ia pengganti yang lebih baik untuknya.”
Benar saja, setelah Ummu Salamah menyelesaikan idahnya dan menjanda, ia mendapatkan ganti yang lebih baik atas kehilangan suaminya. Rasulullah sendiri yang ternyata datang melamarnya. Ummu Salamah dinikahi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam ada Syawal. Siapakah figur suami yang lebih baik dari Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam?
Demikianlah hakikat orang yang tabah dan sabar ketika ditimpa suatu musibah. Seseorang harus meyakini dan menyadari, segala sesuatu yang dimilikinya di dunia ini pada hakikatnya adalah milik Allah. Manusia hanya “dipinjamkan” dan diberi amanah untuk memelihara dan merawatnya. Manusia diperbolehkan memanfaatkannya dalam rangka ketaatan kepada Allah azzawajalla. Suatu saat nanti, barang pinjaman tersebut akan diambil oleh Sang Empu. Dialah Allah Subhaanahu Wata’ala.
Tak ada alasan untuk berduka kerena kehilangan suatu barang yang sejatinya bukanlah miliknya. Tak ada pula alasan berbangga karena dititipkan Allah Subhaanahu Wata’ala harta benda. Lihatlah tukang parkir, kendati mobil dan motornya banyak terparkir di halamannya, ia tak pernah sombong. Ketika orang yang punya mobil dan motor mengambil titipannya, ia tak pernah bersedih. Karena ia yakin, mobil dan motor tersebut bukanlah miliknya.
Ketika Allah mengambil apa yang telah ia titipkan kepada manusia, tak ada alasan bagi manusia untuk bersedih. Malah, sepatutnya ia bersyukur karena telah lunas amanahnya dalam memelihara titipan Allah dan semakin sedikit hisabnya di akhirat kelak.
Bagi Ummu Salamah, sungguh berat baginya atas kepergian suami tercinta. Siapa yang tak akan berduka di kala orang yang disayangi telah pergi untuk selamanya. Namun, itulah dunia. Ada pertemuan tentu ada pula perpisahan.
Allah berjanji, siapa hambanya yang bersyukur dengan suatu nikmat, maka nikmat tersebut akan ditambah (QS Ibrahim [14] :7). Demikian pula, siapa yang bersabar akan kehilangan sesuatu, maka Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un’ lalu berdo’a, ‘Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya’, melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR Muslim).
Jadi, sebesar apapun musibah berupa kehilangan harta benda atau orang yang dicinta, yakinlah dengan sabar dan ikhlas pasti akan diberikan pahala dari Allah SWT. Kemudian, Allah berjanji untuk memberikan ganti yang lebih baik dari itu, jika orang yang ditimpa musibah benar-benar sabar dan ikhlas kepada Allah.
Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah , tidak ada kerugian bagi orang beriman dalam kondisi apapun ia berada. “Sungguh ajaib urusan orang beriman itu, apapun yang datang kepadanya semuanya berujung kebaikan. Jika ia diberikan kenikmatan ia bersyukur, itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya,” jelas Rasulullah dalam sabdanya. (HR Muslim).

*_________________________________________________________*

Yuk bantu jadi orang tua asuh untuk mahasiswa Indonesia yang sedang belajar untuk kebangkitan Islam dalam Program Kaderisasi Ulama di Mesir, Sudan dan negara Islam lainnya.
Info : 0852 1861 6689 (Bpk. Rizal)
Atau bisa kunjungi kami di
Sahabatyamima.id
IG : @sahabatyamima
FanPage : Sahabat Yamima
Youtube : Sahabat Yamima Channel

BERBAGI
Artikel sebelumyaPenyakit Hati dan Obatnya
Artikel berikutnyaJangan Lupakan Al-Qur’anmu
Yayasan Amanah Insan Madani adalah sebuah Yayasan yang bergerak dalam bidang Dakwah, Sosial dan Pendidikan yang lahir pada tahun 2013 untuk mencerdaskan ummat secara ilmu dan ruhiyah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY