📝 Kisah Imam Al-Bukhari

49
0
BERBAGI

Oleh : Luthfi ‘Afif ibnu Syahid (Kader Sahabat Yamima, Mesir)

Nama asli Imam Al-Bukhari adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari, dinisbatkan kepada Bukhara, salah satu kota di Uzbekistan saat ini, kota ini dibuka oleh kaum muslimin dalam ekspansi pimpiman Qutaibah bin Muslim pada tahun 90 H di era kekhalifahan Al-Walid bin Abdul Malik, dan kakek Imam Al-Bukhari memeluk Islam berkat jasa Yamaan Al-Ju’fi, pemimpin kota Bukhara saat itu. Kunyah (panggilan) Imam Al-Bukhari adalah Abu Abdillah dan gelarnya adalah Syaikul Muhadditsin (guru para ahli hadis), dan gelar ini, jika Imam Muslim meriwayatkan hadis yang sama dengan beliau maka mereka berdua diberi gelar “Syaikhoin” (2 guru atau 2 syaikh), maka dari itu hadis-hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab sahihnya dan diriwayatkan juga oleh imam Muslim dalam kitab sahihnya maka akan dikatakan “hadis riwayat syaikhain” yaitu Al-Bukhari dan Muslim.

Imam Al-Bukhari dilahirkan pada bulan Syawal tahun 194 H, dan wafat pada malam hari raya idul fitri tahun 256 H pada umur kira-kira 62 tahun.

Imam Bukhari tumbuh pada keluarga yang soleh, ibunya adalah seorang perempuan bertaqwa yang salihah, dan ia adalah salah satu sebab terpenting dalam membangun kepribadian Imam Al-Bukhari, itu karena ia mendorong Imam Al-Bukhari untuk menuntut ilmu.

Ayah imam Al-Bukhari adalah penuntut ilmu hadis, Imam Al-Bukhari berkata tentang ayahnya : “Ayahku pernah mendengar hadis dari Malik bin Anas, dan pernah melihat Hammad bin Zaid, dan pernah bersalaman dengan Abdullah bin Mubarak.” Ayahnya juga seorang yang soleh, punya perdagangan, Ahmad bin Hafs berkata : “Saya menemui ayah Imam Al-Bukhari ketika ia meninggal dan berkata kepadaku : “Saya tidak mengetahui bahwa di hartaku ada 1 dirham yang berbau syubhat.”.” ini menunjukkan kesalehan beliau, rahimahullah ﷻ.

Ketika imam Al-Bukhari masih kecil, ia diuji dengan kehilangan penglihatan, beliau bercerita tentang dirinya : “Ketika aku sampai di Khurasan (wilayah yang saat ini meliputi Iran, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan), aku diuji di mataku, maka ada seorang laki-laki yang mengajariku supaya aku mencukur rambutku dan membungkus kepalaku dengan khuthmi (sejenis tanaman bunga yang daunnya seperti daun keladi), maka aku lakukan hal itu kemudian Allah ﷻ mengembalikan penglihatanku.”

Ahmad bin Fadhl Al-Balkhi berkata : “Saya mendengar ayah saya berkata : “Penglihatan Muhammad bin Isma’il hilang ketika dia masih kecil, dan ibunya melihat Nabi Ibrahim ﷺ dalam mimpi dan berkata kepadanya : “Allah telah mengembalikan kepada anakmu penglihatannya karena banyaknya doamu” dan di pagi hari ia melihat penglihatan anaknya telah normal kembali.”.”

2 kisah di atas mengandung kemungkinan bahwa sebab kembalinya penglihatan Imam Al-Bukhari adalah kedua hal itu, yaitu beliau memakai obat yang diberi tahu laki-laki itu, dan sebab kedua adalah doa ibunya supaya Allah ﷻ mengembalikan kepadanya penglihatannya.

Imam Bukhari memulai belajar hadis pada tahun 205 H ketika berumur 11 tahun, dan dari kecil ia memang sudah menyukai hadis, dan ia didukung kecerdasannya yang luar biasa, beliau berkata ketika ditanya bagaimana permulaannya menuntut ilmu : “Saya terinspirasi menghafal hadis ketika masih di kuttab (kuttab adalah tempat anak-anak kecil belajar agama, kira-kira setingkat TK di Indonesia) ketika berumur 10 tahun atau kurang dari itu, kemudian saya keluar dari kuttab dan mendatangi majelis Dakhili (salah satu ulama hadis masa itu), saya mendengarnya suatu hari berkata “Sufyan dari Abu Zubair dari Ibrahim” kemudian saya katakan kepadanya “Sesungguhnya Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibrahim” lalu ia membentakku, maka aku katakan “Telitilah kembali buku peganganmu” lalu ia masuk ke rumahnya, melihat katabnya kemudian keluar kembali dan berkata kepadaku “Bagaimana yang betul wahai anak muda?” maka aku jawab “Yang betul adalah Zubair bin ‘Adiy dari Ibrahim” maka ia mengambil pena dariku dan membetulkan bukunya dan berkata “Engkau benar.”.” Dan Imam Bukhari ketika mengoreksi gurunya ia baru berumur 11 tahun. Ketika berumur 16 tahun ia sudah hafal buku-buku Imam Abdullah bin Mubarak dan buku-buku Waki’ dan mengetahui perkataan dan pendapat-pendapat mereka, kemudian beliau bersama ibu dan saudaranya, Ahmad, keluar menuju Mekah tahun 210 H, ketika telah selesai berhaji, saudaranya pulang bersama ibunya dan Imam Bukhari tetap di Mekah untuk belajar hadis.

Imam Bukhari berkata : “Saya telah menemui lebih dari 1000 orang dari penduduk Hijaz, Iraq, Syam, Mesir dan Khurasan, maka tidak seorangpun dari mereka berbeda pendapat tentang hal aqidah, di antaranya tentang : agama adalah perkataan dan perbuatan, dan Al-Quran adalah kalamullah.” Pernyataan Imam Bukhari ini menunjukkan banyaknya ulama yang ia temui dan ia dengarkan.

Beliau berkata : “Saya masuk ke Baghdad 8 kali, semuanya itu dalam rangka menghadiri majelis Ahmad bin Hanbal.” Dan Imam Ahmad sangat senang Bukhari tinggal bersamanya dan tidak kembali lagi ke Khurasan, negri asalnya.

Di antara guru Imam Bukhari dalam hadis adalah Abdullah bin Zubair Al-Humaidi dan ‘Ali bin Abdullah Al-Madiini, dan ‘Ali ini adalah orang paling alim di zamannya tentang ilmu ‘ilalul hadis (sebuah cabang ilmu dalam ilmu hadis) dan Bukhari sangat-sangat menghormati gurunya ini dan punya kedudukan yang tinggi dalam dirinya hingga ia berkata : “Tidaklah aku pandang rendah diriku kecuali di depan ‘Ali bin Al-Madini.”

Di antara gurunya juga adalah Abdullah bin Ahmad Al-Musnadi (diberi sebutan Al-Musnadi karena ketika ia belajar hadis ia sangat perhatian kepada hadis-hadis musnad yaitu hadis yang tersambung ke Rasulullah ﷺ)

Imam Al-Bukhari rahimahullah menulis buku yang sangat banyak sekali, di antara yang paling masyhur adalah kitab yang bernama “At-Tarikh Al-Kabir” yang artinya kira-kira ; sejarah besar, ia menulis itu dekat kubur Rasulullah ﷺ ketika malam-malam terang bulan dan berkata : “Tidaklah aku sebut nama seseorang dalam buku itu kecuali ia punya kisah, hanya saja aku tidak suka menjadikan buku itu buku yang terlalu panjang.”

Adapun kitabnya yang paling masyhur adalah Shahih Bukhari, dan sebab penulisan kitab itu adalah seperti yang dikatakan sendiri oleh Imam Bukhari : “Aku sedang bersama Ishaq bin Rahawaih, dan sebagian kawan-kawan kita berkata “Seandainya kalian membuat kitab ringkas yang mengumpulkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ” tiba-tiba hatiku berkata untuk melakukan hal itu, lalu aku memulai membuat kitab itu, dan berlangsung selama 16 tahun, dan aku jadikan kitab itu sebagai hujjah (yang bisa menolongku) di depan Allah ﷻ.”

Shahih Bukhari menjadi kitab yang paling shahih (benar) setelah kitabullah (Al-Quran), Imam Al-Bukhari menceritakan bagaimana ia meletakkan hadis-hadis nabi ﷺ dalam kitab ini : “Tidaklah aku tulis dalam kitab shahih ini sebuah hadis melainkan sebelum itu aku mandi dan shalat 2 rakaat.”

Imam Bukhari adalah seorang yang sangat bertakwa dan saleh, jauh sejauh-jauhnya dari mengerjakan kemaksiatan, di antara buktinya adalah bahwa ia berkata : “Aku tidak pernah berghibah (menggunjing atau mengumpat) seseorang semenjak aku mengetahui bahwa ghibah itu haram.”

Seseorang bertanya kepadanya : “Apakah ada obat yang kamu minum untuk memperkuat hafalan?” beliau menjawab : “Aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih bermanfaat daripada cita-cita yang tinggi dan pandangan yang terjaga.”

Imam Bukhari kembali ke Khurasan, negri asalnya, dan di Khurasan sebagian kawannya punya perasaan hasad terhadapnya hingga mereka mempersempit gerak-gerik Bukhari di negri itu, sesungguhnya hasad itu adalah penyakit kronis yang tak ada obatnya yang timbul pada sebagian orang-orang shaleh dan hasad adalah prasangka buruk terhadap Allah ﷻ karena pelakunya tidak ridha terhadap apa yang Allah ﷻ  karuniai kepada orang yang dihasadi.

Imam Bukhari meninggal setelah ia keluar dari kotanya dan mengecam orang-orang yang menzhaliminya dan orang-orang yang mengadukannya kepada pemerintah, beliau wafat pada malam hari raya idul fitri 256 H semoga Allah ﷻ merahmati beliau.

*_______________________________________________________________________*

Yuk bantu jadi orang tua asuh untuk mahasiswa Indonesia yang sedang belajar untuk kebangkitan Islam dalam Program Kaderisasi Ulama di Mesir, Sudan dan negara Islam lainnya.

Info : 0852 1861 6689 (Bpk. Rizal)

Atau bisa kunjungi kami di

Sahabatyamima.id

IG : @sahabatyamima

FanPage : Sahabat Yamima

Youtube : Sahabat Yamima Channel

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY