Peran Politik Islam Dinasti Mamluk (Kesultanan Delhi) di Tanah Hindh

124
0
BERBAGI

Indian History The Series (Part 3)

Oleh : Mu’tashim Billah ( Kader Sahabat Yamima, Sudan )

Periode kekuatan politik Islam di tanah Hindh pertama terjadi dimasa Khalifah Umar bin Khattab RA yang saat itu menjadi puncak keemasan penaklukan berbagai negeri di periode Khulafa’ur Rasyidin. Estafet penaklukan berlanjut hingga runtuh nya kesultanan Ghuriyah akibat perselisihan di internal kerajaan hingga Qutbudin Aibak seorang mamluk Turki mantan komandan Ghuriyah memproklamirkaan dinasti baru di kawasan Hindustan.

Perlu diketahui, ditinjau dari ilmu sorof, Mamluk (مملوك) isim maful dari kata kerja (ملك) malaka. Mamalik (ممالك) bentuk jamak dari mamluk yang berarti sesuatu yang dimiliki atau sinonim dari ‘budak’. Namun ‘mamalik’ tersebut lebih tepatnya merupakan julukan kepada budak keturunan Turki muslim yang direkrut dan dilatih di akademi militer Islam hingga menjadi tentara elit yang sangat loyal di kesatuan militer kesultanan. Memiliki postur yang tinggi, kuat dan pandai berkuda menjadi alasan bangsa Turki bayak dimanfaatkan jasa nya untuk prajurit militer oleh penguasa saat itu.

Rekrutan Turki yang dikenal gigih berlatih, tidak sedikit dari mereka naik pangkat menduduki jabatan strategis di lingkungan militer. Kelak merekalah yang berada di front terdepan melindungi kekhalifahan pusat saat mengalami masa kritis  diambang keruntuhan dari kekuatan pihak luar yang ingin meredam cahaya khilafah yang mulai meredup.

Tentara mamluk Turki tidak hanya unggul dalam kemiliteran Islam, namun juga pernah berkuasa di kancah politik Islam sebagai pendiri daulah – daulah kecil yang berkolaborasi dengan kekhalifahan Islam saat itu. Daulah Mamluk banyak berjasa membendung kekuatan musuh luar dan mengangkat marwah kekhalifahan yang semakin melemah sebab faktor internal dan eksternal. Berikut dinasti Islam populer yang didirikan oleh mamluk Turki :

  • Dinasti Mamluk di Mesir
  • Dinasti Mamluk di India/ kesultanan Delhi
  • Dinasti Saljuk
  • Dinasti Ghaznavid
  • Dinasti Utsmaniyah
  • Dll.

Point Pembahasan di artikel ini terfokus pada dinasti mamluk di India atau kekaisaran Mughal. Periode kesultanan Delhi berkuasa dalam rentan tahun 603 H – 933H/1208 M – 1527 M yang berpusat di Kota Delhi (ibu kota India modern).

Pendiri dinasti ini bernama Qutbuddin Aybak (1208M – 1210M). Dahulu mamluk Turki berpangkat jendral kepercayaan Syihabuddin Muhammad Al Ghuri yang selalu menemaninya menaklukan berbagai daerah di tanah Hindustan hingga ditunjuk sebagai penguasa wilayah tersebut dibawah otoritas Ghuriyah (1191M – 1206 M) setelah ditaklukan dimasa Syihabuddin.

Ketika Syihabuddin menggantikan saudaranya Ghiyathuddin takhta kesultanan Ghuriyah, dia adalah representasi dinasti di tanah Hindh yang mengatur seluruh administrasi dan kebijakan umum di Hindh yang tak tergantikan hingga wafat Sultan Syihabuddin. Pasca wafat, perselisihan kekuasaan di internal keluarga dinasti yang mengabaikan banyak urusan umat, terdapat 4 jendral kepercayaan Syihabuddin yang mendirikan ke-emiratan masing-masing. Salah satu diantaranya Qutbuddin Aibak berinisiatif mendirikan pondasi dinasti merdeka dan mengukuhkan pengaruh Islam di anak Benua India di akhir Dinasti Ghuriyah yang semakin melemah.

Terdapat 5 dinasti yang berkuasa di tanah Hindh dan masih bernaung dalam kesultanan Delhi yaitu :

  • Dinasti Mamluk (1206 M – 1290 M)
  • Dinasti Khalji (1290 M – 1320 M)
  • Dinasti Tughluq (1320 M – 1414 M)
  • Dinasti Sayyid (1414 M – 1451 M) 
  • Dinasti Lodhi (1451 M – 1526 M)

Qutbuddin Aibak mengangkat dirinya menjadi sultan pertama pada 1208 M dan berkuasa dalam tempo hanya 2 tahun. Ia dimakamkan di ibukota Dinasti Mamluk pertama Lahore pada 1210 M. Meskipun singkat, dia banyak memberikan banyak perbaikan di segala lini administrasi pemerintahan, madrasah dan masjid sebagai pusat kekuatan Islam. Salah satu bangunan masjid populer yang masih bisa ditemui di New Delhi adalah “Masjid Qutub Minar atau Masjid Quwwatul Islam” dibagun pada tahun 1191 M hingga 1230 M. Kini bangunan itu ditetapkan UNESCO sebagai situs bersejarah peninggalan kesultanan Delhi.

Para ahli sejarah berpendapat lantai dasar masjid tersebut dahulu dibangun pemerintah Hindu setempat sebagai tempat ibadah. Namun ketika Dinasti Ghuriyah menginvasi dan berjaya menaklukan kota Delhi dari penguasa Hindu, bangunan tersebut dikonversi menjadi masjid. Penguasa sepeninggal Qutbuddin melebarkan dan meninggikan bangunan hingga kemudian sebagian bangunan masjid sempat di runtuhkan. Kini sisa reruntuhan menjadi bangunan bersejarah warisan dunia UNESCO di India.

Qutbuddin wafat tidak mewasiatkan pemegang Dinasti Mamluk sepeninggalnya, alhasil hasil musyawarah internal, putranya Aram Syah menjadi penerus penguasa dinasti di Lahore yang hanya berlangsung setahun karena tidak memenuhi syarat untuk mengambil alih urusan kenegaraan. Pelantikannya dipertentangkan oleh sebagian bangsawan Turki karna Iltutmish yang dianggap layak sebagai pewaris kesultanan berdasarkan catatan militer yang mengesankan.

Singkat cerita, kudeta atasnya berhasil dan pada 1211 M tahta kekuasaan diserahkan kepada saudara iparnya Syamsuddin Iltutmish atau Iltumish.  Iltutmish dianggap sebagai pendiri sejati Dinasti Mamluk. Awalnya dia adalah mamluk yang dibeli oleh Qutbuddin Aibak dari Ghazna. Berkat dedikasi nya, karir militernya luar biasa, ia diangkat semula menjadi pengawal pribadi, komandan pasukan hingga mengelola administrasi kenegaraan di sebagian wilayah Dinasti Mamluk. Hingga ia dinikahkan dengan putri Qutbuddin karena ketulusan kan kontribusinya.

Seperempat abad pemerintahannya, dia mereformasi kembali aparatur administrasi dan mengkonsolidasi pondasi dinasti dengan meredam pemberontakan di wilayah kekuasaannya diantaranya berhasil mengalihkan serangan brutal Jengis Khan dan terhindar dari kehancuran bangsa Mongol. Khilafah Abbasiyah mengakui kedaulatan Dinasti Mamluk di Hindustan. Ia sultan pertama di India yang mencetak mata uang resmi kesultanan yang namanya tertulis disebelah nama Khalifah Abbasiyah.

Setelah resmi menduduki singgasana, Syamsuddin melanjutkan perluasan daerah kekuasaan ke Utara India dan menundukkan daerah Kolkata, Odisha, Timur Teluk Benggal dan kota lain di Utara hingga penaklukan Hindh bagian Utara telah paripurna menyeluruh di masanya. Ia membagi wilayah administratif menjadi beberapa provinsi yang dipimpin oleh Qodhi.

Sultan membentuk dewan Arbain/ Turkan-i- chihalgani yang terdiri dari 40 pemimpin mantan  Mamluk Turki yang diangkat menjadi dewan eksekutif yang setia kepada amir. Dewan ini memainkan peran penting dalam membantu administrasi dan keputusan kesultanan. Hal ini dibentuk karena banyak dari bangsawan Turki yang berkonspirasi ingin menjatuhkannya  dari kekuasaan hingga dibubarkan dimasa Sultan Ghiyathuddin Balban.

Wafat pada tahun 1236 M, ia meninggalkan 4 anak, Ruknuddin, Muizzudin, Nashiruddin dan radhiyah. Radhiyah lahir 1205 H. Kelahirannya sangat spesial bagi sang ayah karena satu-satunya putri dari sekian banyak putra dari anaknya. Sang ayah terlibat langsung dalam pendidikan dan pelatihan putrinya sendiri. Bahkan ia kerap turun menemani ayahnya dalam kampanye militer dan mempercayakan kepemerintahan sementara Delhi saat ayahnya bertugas. Hingga ia tumbuh matang dengan kecakapan leadership, militer yang mumpuni dan urusan kenegaraan.

Singkat cerita, Ruknuddin Firoze menggantikan singasana kesultanan yang bertahan hanya 6/ 7 bulan sebab banyak menghabiskan waktunya dengan kesenangan sehingga kendali pemerintahan diatur ibunya Turkan Shah. Turkan Shah mulai bertindak sewenang-wenang dan menerapkan skema menghilangkan calon pesaing tahta.

Singkat cerita, hal tersebut memperburuk kondisi politik dinasti dan memicu perlawanan dari koalisi mamluk di wilayah kekuasaan. Konspirasi pelengseran kompak dilakukan dari dilakukan oleh oleh Dinasti Arbain dan saudarinya radhiyah hingga dia di dibunuh pembalasan atas kematian saudaranya.

Pasca kewafatan, Radhiyatuddin binti Iltutmish didaulat menjadi sultanah wanita pertama Delhi sekaligus pertama dalam Islam yang berlangsung selama 4 tahun. Sebelum dilantik,  ayahnya sudah membekali dan melatih banyak hal dan berpikir untuk mempercayakan tahta kepadanya kelak bukan saudaranya karna dianggap sudah cukup matang untuk menjalankan roda pemerintahan.

Radhiyah menyatakan kesetiaannya kepada Abbasiyah Al Mustansir Billah di Baghdad. Koin emas dan perak dicetak atas namanya bersanding dengan nama Khalifah Abbasiyah. Ia mengikuti jejak ayahanda dalam mengelola politik yang adil dan bijaksana. Namun jalan yang ditempuh terganggu oleh anggota dewan yang ingin mengambil pengaruh kekuasaan di kesultaanan. Ia mampu mengatasi situasi dan merombak beberapa kabinet. Sedari awal pengangkatan sultan wanita ditentang para ulama dan dewan Arba’in. Mereka berusaha melemahkan dan mencoba mengantikan dengan saudaranya.

Dimasanya ia mendirikan sekolah, akademi, pusat penelitian dan perpustakaan. Ia tetap berperang di garis terdepan layaknya lelaki dalam invasinya. Ia Wafat terbunuh pada 1240M. Sultan penguasa pasca wafat Radhiyah adalah sultan yang lemah dan tidak menunjukkan prestasi yang mengesankan yang bisa di catat dalam tinta emas sejarah dinasti.

Muizzudin Bahram menyatakaan diri sebagai Sultan Delhi baru setelah berkonspirasi mengkudeta sultanah bersama Ghiyatuddin Balban dengan dukungan dewan arba’in. Tahun 1241 M, tentara Mongol invasi ke lembah Indus Hindh dan mengepung Punjab dan ibukota Lahore hingga membumi hanguskan kota. Ia wafat dibunuh oleh pada 1242 M.

Ia diganti dengan keponakannya Alauddin Mas’ud putra dari Ruknuddin Firoze, cucu Iltutmish. Ia tak lain adalah boneka dari dewan arba’in yang tidak memiliki banyak kekuatan atau pengaruh dalam pemerintahan. Koin emas dicetak atas namanya di rentan waktu selama 4 tahun. Serangan mongol terjadi untuk kedua kalinya ke Delhi sampai Ghiyatuddin Balban mengalahkannya. Dewan arbain memecatnya dan Kekuasaan berpindah ke pamannya, putra Iltutmish.

Nashiruddin Mahmud. Dia dikenal menghabiskan waktunya beribadah dan menulis ayat-ayat Al Qur’an. Ia mendelegasikan tugas tanggung jawab kenegaraan kepada perdana Wazirnya Ghiyathuddin Balban yang memiliki kapabilitas dalam bidang bernegara, politik dan militer. Meski dipegang wazirnya Ia bisa meredam pemberontakan dan memukul mundur invasi Mongol ke tanah Hind dan terciptanya keadilan selama 20 tahun memimpin.

Balhan merupakan orang Turki yang ditangkap Mongol di Turkistan lalu berpindah ke tangan Syekh Jamaluddin Bashri dan dibeli oleh Sultan Iltutmish. Karier melesat hingga dipercaya menjadi pelayan pribadi kerajaan, menjadi wazir (perdana mentri) selama 20 tahun. Ia dinikahkan dengan putri Iltutmish. Hal ini mengukuhkan dirinya mengontrol segala administrasi kesultanan hingga Ghiyathuddin Balban dipercaya menduduki kursi dinasti sepeninggal Nashirudin Mahmud yang tidak memiliki keturunan.

Sultan Balban dianggap sebagai Sultan Mamluk brilian yang pernah dimiliki kesultanan mamluk setelah Sultan Qutbudddin Aibak dan Syamsuddin Iltutmish disebabkan pengaruhnya yang besar di dalam kebijakan dinasti. Banyak menyelesaikan fitnah, membendung upaya pemberontakan, menjaga keutuhan negeri dari separatisme di belahan bumi Timur dan Barat dan melakukan reformasi besar-besaran dibidang politik dan militer.

Dia sangat mencintai ulama, seorang administrator yang ulung, adil dan tegas terlebih tindak kejahatan jika dilakukan sanak keluarganya, gemar beribadah. Pada akhir pemerintahannya. Ia sakit keras dan mewasiatkan pewaris kekuasaan kepada Kay Khasrau cucu dari putra yang ia cintai Muhammad Khan yang terbunuh di medan perang melawan Mongol dan mengabaikan putra lainya Bughra Khan.

Pada akhirnya, Kay Khasrau disingkirkan dari pewaris tahta oleh wazir dan diangkat Muizzudin Qaiqabad putra dari Nashirudin Bughra Khan yang sebelumnya ditunjuk sebagai Gubernur Bengal setelah menggulingkan Tughral Khan hingga mendeklarasikan kemerdekaan Benggala dari mamluk pasca kematian Balban. Akhir cerita, Sultan Qaiqabad berdamai mengakui kemerdekaan Benggala dan mencopot wazir oleh ayahnya Bughra Khan.

Saat kondisi sakit keras, terjadi perselisihan antara orang Turki dan Afghan terkait penerus Sultan Balban. Turki menginginkan keturunan Balban sedangkan Afghan ingin pewaris tahta dari golongan mereka yaitu Jalaluddin Fairuz khalji sebagai sultan. Sebelumnya Sultan Qaiqabad memilih Khalji menjadi wakil sultan.

Pengepungan oleh orang Afghanistan di istana dan masuk membunuh Sultan Qaiqabad yang menandai akhir dari Dinasti Mamluk dan perpindahan ke dinasti keturunan Afganistan di pentas politik Islam di India pada 1290 M dengan sultan pertama Dinasti Khalji yaitu Sultan Jalaluddin Fairoz Khalji.

Insya Allah artikel akan dilanjutkan di serial berikutnya, so, stay tune ya 😁

                                                        Sultan Dinasti Mamluk India

1Qutbuddin Aibak(1206M-1210M)
2Aram syam(1210M-1211M)
3Syamsuddin Iltumish/ Iltutmish(1211M-1236M)
4Ruknuddin Firoze syah(1236)
5Radhiyahuddin(1236M-1240M)
6Muizzudin Bahram(1240M-1242M)
7Ala’uddin Mas’ud(1242M-1246M)
8Nashiruddin Mahmud(1246M-1266M)
9Ghiyathuddin Balban(1266M-1287M)
10Mu’izzudin Qaiqabad(1287M-1290M)

Referensi

  1. Tarikh Islam fil Hind, dr abdul mun’im numair.
  2. Jejak Jejak Islam, ahmad rafi’ utsmani
  3. Republika.co.id
  4. Islamstory.com
  5. Wikipedia

*_______________________________________________________________________*

Yuk bantu saudara kita yang membutuhkan Al-Quran dalam  Program wakaf Al-Quran bersama YAMIMA

Info : 0852 1861 6689 (Bpk. Rizal)

Atau bisa kunjungi kami di

Sahabatyamima.id

IG : @sahabatyamima

FanPage : SahabatYamima

Youtube : SahabatYamima Channel

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY